gobetnews_top_banner_2025
Gian Piero Gasperini

Gian Piero Gasperini Ubah Roma Menjadi Penantang Serius Scudetto, Bro!

Gobetnews – Gobetmania Yo, fans sepakbola! AS Roma kini jelma jadi salah satu tim paling konsisten di Serie A musim ini. Perubahan gede itu nggak lepas dari sentuhan taktis Gian Piero Gasperini.

Mereka bertengger di puncak klasemen waktu laga krusial lawan Napoli makin mendekat. Situasi ini nunjukin perkembangan signifikan dibanding musim sebelumnya.

Fondasi yang dibangun Claudio Ranieri musim lalu kasih pijakan kuat buat Gasperini. Roma cuma kalah sekali di paruh kedua musim 2024/2025 dan hampir lolos ke Liga Champions.

Gasperini terus poles struktur yang udah terbentuk tanpa perubahan drastis. Dengan pendekatan yang lebih disiplin, Roma tampil efisien dan sulit ditembus.

Perubahan Identitas Taktis di Era Gasperini!

Roma tetep pake formasi tiga bek yang diwariskan Ranieri. Wesley dan Zeki Celik isi peran wingback, sementara Pellegrini dan Matias Soule jadi motor kreativitas.

Selama sembilan tahun di Atalanta, Gasperini dikenal sebagai pelatih yang utamain permainan ofensif terbuka. Tapi musim ini dia balik ke pendekatan yang lebih konservatif buat kestabilan tim.

Roma bukan tim paling produktif di liga dengan cuma cetak 15 gol dari 12 laga. Meski begitu, pendekatan pragmatis bikin mereka lebih efektif dalam kontrol pertandingan.

Penguasaan bola Roma capai 58.6 persen per laga dan kebobolan cuma 0.5 per 90 menit. Angka itu jadi bukti pendekatan defensif mereka jalan sangat baik.

Kukuhnya Struktur Bertahan Roma!

Salah satu kekuatan terbesar Roma adalah rendahnya kualitas peluang yang mereka kasih ke lawan. Cuma 57.60 persen tembakan lawan terjadi di dalam kotak penalti, dengan rata-rata 0.11 xG per tembakan.

Mile Svilar jadi figur sentral di keberhasilan ini. Dia tampil sangat solid dan kini jadi pemain dengan rating tertinggi di skuad Roma menurut FotMob.

Gian Piero Gasperini
“Memberi instruksi di tengah laga—fokus penuh mengarahkan rekan setim.”

Svilar catat persentase penyelamatan 85.4 persen dan enam clean sheet. Dia juga cegah 4.5 gol dan baru kebobolan enam kali sepanjang musim.

Di depannya, Gianluca Mancini jadi dinding kokoh dengan torehan tekel, intersepsi, dan blok terbanyak di tim. Kombinasinya bareng Evan Ndicka bikin lini belakang Roma sulit ditembus.

Soule, Sang Penggerak Kreativitas Roma!

Performa lini depan Roma belum stabil, tapi Matias Soule jadi pengecualian. Dia tampil sebagai pemain paling kreatif sekaligus paling konsisten di fase menyerang.

Soule mainin peran sebagai gelandang serang kanan di formasi 3-4-2-1. Duetnya sama Pellegrini kasih variasi serangan meski penyerang utama belum tampil optimal.

Evan Ferguson yang dipinjam dari Brighton baru cetak satu gol dan satu assist. Artem Dovbyk sebagai pesaingnya juga belum kasih dampak maksimal.

Soule cetak empat gol dan dua assist dari 12 pertandingan Serie A. Dia catat sepuluh peluang tercipta, 34 sentuhan di kotak penalti, dan ratusan operan sukses yang tunjang serangan Roma.

Etos Kerja Soule dan Harapan Roma ke Depan!

Selain kreativitas, Soule juga punya etos kerja luar biasa. Dia agresif nekan lawan, rebut bola 14 kali di sepertiga akhir, dan menangin 42 duel.

Performa kayak itu bikin dia jadi aset paling penting Roma di area final. Gasperini jelas sangat terbantu oleh kontribusi dua arah dari sang pemain Argentina.

Roma kini puncaki klasemen setelah 12 laga buat pertama kalinya dalam sepuluh tahun. Hal ini munculin harapan gede buat para pendukung.

Baca Juga : Noni Madueke Kirim Pesan untuk Chelsea Jelang Laga Perdana Melawan Mantan Klub, Bro!

Tapi Gasperini tetep coba redam euforia. Dia tegasin bahwa mimpi boleh, tapi perjalanan menuju Scudetto masih panjang dan penuh tantangan.

Wah, Roma lagi naik daun nih! Siapa yang bakal juara Serie A? Yuk, diskusi di komentar ya! ⚽🔥

Other Articles

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.
GOBET