gobetnews_top_banner_2025

Patrick Dorgu Absen 10 Pekan, Ini Opsi Manchester United Menutup Lubang di Sayap Kiri, Bro!

Gobetnews – Gobetmania Yo, guys! Manchester United harus hadap ujian baru di tengah momentum positif mereka. Patrick Dorgu dipastikan menepi sekitar 10 pekan akibat cedera hamstring yang dia alami akhir pekan lalu.

Cedera itu datang di saat yang kurang ideal. Dorgu lagi di periode terbaiknya bareng United, bahkan cetak gol dalam dua laga awal era interim Michael Carrick.

Absennya pemain berusia 21 tahun itu paksa staf pelatih pikir ulang keseimbangan tim, terutama di sisi kiri.

Masalahnya bukan cuma cari pengganti posisi, tapi tentuin profil pemain yang paling tepat buat jaga struktur permainan.

Dampak Cedera Dorgu dan Opsi di Lini Belakang

Cedera Dorgu terjadi saat dia kejar bola panjang di babak kedua kemenangan 3-2 atas Arsenal. Buat United, kehilangan ini terasa signifikan karena Dorgu kasih fleksibilitas taktis yang jarang dimiliki pemain seusianya.

Dalam beberapa pekan terakhir, Dorgu berkembang jadi salah satu pemain paling konsisten. Dia mampu main sebagai bek kiri maupun sayap kiri, kasih keseimbangan antara energi bertahan dan kontribusi ofensif.

Di sektor bek kiri, Carrick relatif gak terlalu khawatir. Luke Shaw udah tampil sebagai starter di seluruh 23 laga liga musim ini, rekor terpanjangnya di Premier League. Selain Shaw, United masih punya Diogo Dalot, Noussair Mazraoui, serta Tyrell Malacia sebagai alternatif.

Tapi, persoalan sesungguhnya muncul lebih ke depan. Posisi sayap kiri yang ditinggal Dorgu tuntut solusi beda, karena perannya gak cuma soal posisi, tapi juga intensitas dan dinamika permainan.

Matheus Cunha: Kreativitas dan Ancaman dari Half-Space

Matheus Cunha jadi kandidat paling ofensif buat ganti Dorgu. Meski lebih sering dimainin sebagai penyerang kedua, dia udah nunjukin dampak nyata di bawah Carrick.

Gol jarak jauhnya di Emirates Stadium dan assist buat Dorgu saat lawan Manchester City negasin efektivitasnya, meski sering masuk dari bangku cadangan. Cunha unggul dalam bawa bola dan kerja di area half-space kiri.

Satu arah, satu komando. Di lapangan panas, pemimpin sejati tetap dingin dan tegas.

Dibanding Dorgu, Cunha jelas tawarin peningkatan kualitas di sepertiga akhir lapangan. Tapi, ada kompromi yang harus diterima. Kontribusi defensifnya gak seintens Dorgu, yang kerap lakuin recovery run jauh ke wilayah sendiri.

Kalau Cunha dipasang di kiri, Shaw kemungkinan harus pikul tanggung jawab ekstra buat jaga lebar permainan. Pertanyaannya, apakah bek berusia 30 tahun itu masih sanggup lakuin overlap secara konsisten dalam periode padat?

Mason Mount: Opsi Pressing dan Keseimbangan

Nama Mason Mount balik masuk perhitungan. Cedera Dorgu buka peluang baru buat gelandang serang yang kariernya di United belum beneran stabil sejak didatengin dengan nilai 55 juta pounds.

Mount bukan tipe winger eksplosif kayak Cunha. Dia lebih dikenal sebagai penghubung permainan, dengan kemampuan baca ruang dan kerja tanpa bola. Gol-golnya ke gawang Sunderland, Crystal Palace, dan Wolverhampton jadi pengingat kualitas teknisnya.

Salah satu nilai utama Mount adalah kontribusinya dalam skema pressing. Dia piawai tentuin kapan harus tekan pemain, zona, atau bola, sesuatu yang kerap dicari pelatih saat hadap lawan kuat.

Faktor lain yang gak kalah penting adalah relasinya sama Shaw. Keduanya punya pemahaman yang terbangun sejak bela Inggris, yang bisa bantu jaga stabilitas sisi kiri United.

Amad dan Shea Lacey: Solusi Alternatif Berbasis Profil Kaki Kiri

Pilihan lain adalah maksimalkan pemain berkaki kiri. Amad jadi opsi paling siap di antara keduanya, terutama setelah tampil impresif di Piala Afrika dan lanjut performa positif bareng klub.

Amad dikenal sebagai penyerang satu lawan satu terbaik di skuad United. Momentum dan dribelnya sering paksa lawan kerahkan dua pemain buat hentikinnya. Aspek defensifnya juga naik sejak sempat main sebagai wing-back.

Tapi, mainin dia di sayap kiri berarti korban sebagian ancaman khasnya saat menusuk dari kanan. Dia bakal lebih sering terjebak melebar dan kehilangan ruang buat gerak ke area sentral.

Shea Lacey, yang baru berusia 18 tahun, tawarin opsi jangka panjang. Meski masih minim menit main, potensinya udah terlihat, termasuk saat hampir cetak gol spektakuler lawan Burnley dan balik cetak gol di level U-21.

Benjamin Sesko dan Efek Domino di Lini Depan

Carrick sempat pilih Benjamin Sesko saat Dorgu ditarik keluar lawan Arsenal. Striker asal Slovenia itu memang gak cetak gol, tapi perannya dalam proses gol ketiga United sangat krusial.

Sesko tarik dua bek tengah Arsenal, buka ruang buat rekan setimnya. Pergerakan tanpa bolanya kasih waktu dan ruang buat Cunha buat eksekusi peluang.

Carrick sendiri jelasin pendekatan fleksibel itu sebelum laga, dengan bilang kalau dia kasih Bryan Mbuemo peran bebas buat isi berbagai ruang, sementara Sesko unggul dalam lari di garis terakhir.

Pendekatan ini buka kemungkinan lain. Sesko bisa jadi penyerang utama, sementara Cunha, Mount, atau Amad isi sisi kiri. Tapi, setiap pilihan bawa konsekuensi di area lain.

Absennya Patrick Dorgu jelas jadi masalah buat Manchester United. Tapi, kedalaman skuad bikinnya lebih menyerupai dilema taktik ketimbang krisis.

Baca Juga : Malam Pilu Robin van Persie: Feyenoord Tersingkir, Sang Anak Cedera dan Ditandu Keluar, Bro!

Nah, United lagi diuji tanpa Dorgu nih! Carrick butuh pilih opsi yang tepat buat tutup lubang di sayap kiri. Kalian siapa yang jadi favorit buat ganti dia? Siap nonton United selanjutnya, ya! ⚽🔥

Other Articles

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.
GOBET