Derbi Manchester: Ketika Michael Carrick Kembalikan Senyum Old Trafford Lewat Kesederhanaan, Bro!
Gobetnews – Gobetmania Yo, ada nuansa yang beda, sangat beda, di Old Trafford kali ini nih, bro! Derbi Manchester yang baru aja lewat bukan sekadar pertandingan sepak bola taktis yang dingin.
Ini pertarungan yang meledak-ledak. Penuh intensitas, emosi yang luap, sama sesekali diwarnai kebencian yang nyata di atas lapangan.
Buat penonton di rumah, ini tontonan yang menghibur. Tapi buat sekelompok mantan pemain Manchester United yang belakangan dominasi pemberitaan, Roy Keane, Gary Neville, Paul Scholes, ini sajian yang mereka rindukan.
Roy Keane, dengan aksen Irlandia-nya yang kental, sering sebut laga kayak gini sebagai “a daarby”. Dia biasanya skeptis, tapi kali ini, Old Trafford sajikan apa yang seharusnya jadi standar sebuah derbi.
Keane pasti rasa “pulang ke rumah” pas saksikan laga ini.
Kembalinya Tensi Panas Derby Manchester
Atmosfer permusuhan yang udah lama hilang akhirnya balik. Wasit Anthony Taylor udah harus cabut kartu kuning sejak awal buat Diogo Dalot sama Luke Shaw.
Padahal, di kejadian pertama, warna kartu bisa aja berubah jadi merah.
Gak berhenti di situ, pemandangan Harry Maguire sama Bernardo Silva bergulat di dekat papan iklan depan Stretford End jadi simbol panasnya laga. Padahal, keduanya bukan tipikal pemain paling pemarah di Barat Laut Inggris.
Setiap benturan tubuh antara seragam merah sama biru naikin suhu stadion. Buat para legenda pengkritik di ruang ganti, situasi ini sangat bisa dikenali. Jujur aja, kita udah terlalu lama rindukan atmosfer kayak gini di Manchester.
Kesederhanaan yang Mematikan
United tampil beringas, seolah dapet suntikan nyawa baru dari suara-suara segar di tempat latihan. Michael Carrick, sang pelatih, lakuin hal yang sebenarnya sangat sederhana tapi krusial: tempat pemain di posisi terbaik mereka.
Bruno Fernandes balik jadi nomor sepuluh. Amad Diallo sisir sisi kanan serangan. Kobbie Mainoo pegang kendali di poros tengah.
Sesederhana itu, tapi dampaknya luar biasa.
Mereka mulai laga dengan baik sama gak pernah toleh ke belakang. Bahkan pas Mason Mount cetak gol yang lagi-lagi dianulir di masa injury time—total ada tiga gol yang dianulir—City udah dibuat gak berdaya dengan cara yang jarang kita liat.
Pemandangan Casemiro yang lompat kegirangan ke punggung Carrick di pinggir lapangan jadi gambaran betapa cairnya suasana tim saat ini.
Matinya Taktik Rumit, Hidupnya ‘United Way’
Carrick seolah buang jauh-jauh skema kompleks yang sempet beban tim di era Ruben Amorim. Gak ada lagi struktur serangan lambat atau ketergantungan di wing-back yang kaku.
Sebagai gantinya, sang pelatih kembalikan “United Way” ala Sir Alex Ferguson. Kecepatan, intensitas tinggi, sama serangan langsung (direct) jadi senjata utama yang runtuh dominasi penguasaan bola City.
“Bukan kapasitas saya buat membedah di depan umum. Kami cuma mau main dengan kekuatan kami,” ujar Carrick ke Sky Sports usai laga.
Transisi kilat United bikin pertahanan City yang lagi dilanda badai cedera kocar-kacir. Tiga gol sempet dianulir karena offside sama dua tembakan bentur tiang gawang, bukti betapa mengerikannya gempuran tuan rumah.

Transformasi Dorgu dan Kembalinya Mbeumo
Kunci dari permainan agresif ini terletak di keberanian Carrick eksploitasi lebar lapangan. Dia tempat Patrick Dorgu sama Amad Diallo sebagai motor serangan yang tusuk di sisi sayap.
Dorgu, yang sejatinya seorang full-back, disulap jadi penyerang sayap yang efektif. Keputusan ini terbayar lunas pas dia cetak gol kedua United, lengkapin gol pembuka dari Bryan Mbeumo yang baru balik dari Piala Afrika.
“Dua pemain sayap, Amad sama Dorgu, sangat fantastis baik pas serang maupun bertahan,” puji Carrick.
Carrick kasih kebebasan buat pemainnya buat berlari sama berkreasi tanpa beban taktis berlebih. Hal ini bikin Bruno Fernandes sama Matheus Cunha tampil sangat cair di lini serang.
“Mbeumo sama Bruno, Cunha masuk sama bikin perbedaan, Mount hampir cetak gol. Semuanya berjalan sesuai harapan kami,” tambahnya.
City yang Hancur Berkeping-keping
Di sisi lain, Manchester City tampil bak puzzle yang dipaksa nyatu tapi berantakan. Pep Guardiola memang punya alibi. Badai cedera hantem lini pertahanan, sementara sang titan lini tengah, Rodri, belum balik ke performa terbaiknya pasca-cedera.
Keputusan Guardiola pasang Max Alleyne, bek 20 tahun yang tiga minggu lalu tetep dipinjam ke Watford, jadi bumerang. Dia mampu atasi Brighton sama Exeter di FA Cup, tapi gak di sini. Alleyne kewalahan sama harus diganti pas turun minum.
Phil Foden juga tampil buruk di penguasaan bola sama gak selamat dari evaluasi paruh waktu. Gol pertama United bahkan lahir dari tendangan bebas City yang dieksekusi sangat buruk, picu serangan balik empat lawan dua yang mematikan.
Erling Haaland pun dibuat mati kutu sepanjang hari oleh keunggulan sama rasa lapar duet Maguire sama Lisandro Martinez. Di lini tengah, Casemiro sama Mainoo sekadar lebih ingin menang, lebih cepat, sama lebih baik dari lawan mereka yang berbaju biru.
Bukan Sekadar Keberuntungan
Kiper City, Gianluigi Donnarumma, udah berjuang sendirian tahan gelombang serangan dengan penyelamatan gemilang. Tapi, timnya terlalu terbuka sama rentan.
Kemenangan ini terasa jauh beda banding pas United menang di Etihad musim lalu. Kala itu, kemenangan terasa dipaksakan sama berbau keberuntungan.
Kali ini gak. Kemenangan ini dipahat dari hasrat sama kebangkitan sebuah keyakinan. United dominasi, bahkan nyaris malu tetangganya kalau bukan karena keputusan wasit sama tiang gawang.
Baca Juga : Momen Kamera Tangkap Gerutu Declan Rice Usai Gagal Kalahkan Nottingham Forest, Bro!
Di akhir laga, Carrick pimpin pemainnya lakuin lap of honour atau putaran penghormatan. Roy Keane sama kawan-kawannya mungkin gak suka bagian selebrasi itu, tapi mereka gak bisa dapet semuanya sekaligus.
Setidaknya, rasa hormat ke performa di lapangan udah balik diraih.
Semoga United terus dominan, bro! Premier League makin seru nih! ⚽🔥
