Paradoks Pemain Akademi Barcelona dan Real Madrid: Ketika La Masia Berpesta, La Fabrica Tersandung di Copa del Rey, Bro!
Gobetnews – Gobetmania Yo, musim 2025/2026 hadirin ironi gede di sepak bola Spanyol nih, bro! Dua akademi terbaik, La Fabrica sama La Masia, berjalan ke arah yang berlawanan. Hasilnya mencolok.
Real Madrid tersingkir dari Copa del Rey. Tim muda asuhan Alvaro Arbeloa kalah 2-3 dari Albacete. Lawan mereka asal La Liga 2.
Di saat yang sama, Barcelona berpesta. Pemain-pemain jebolan La Masia jadi tulang punggung kesuksesan tim utama. Gelar Supercopa de Espana pun diraih.
Situasi ini tegas paradoks. Akademi Madrid aktif produksi pemain, tapi gagal kasih dampak instan. Barcelona justru panen hasil nyata dari jalur pembinaan.
La Fabrica dan Kegagalan di Copa del Rey
Real Madrid turunin banyak pemain La Fabrica di Copa del Rey. Ada David Jimenez, Raul Asencio, Fran Garcia, Jorge Cestero, sama Gonzalo Garcia. Cesar Palacios plus Manuel Angel masuk dari bangku cadangan.
Komposisi ini nunjuk keberanian klub. Tapi, hasil akhir gak berpihak. Madrid kalah dari Albacete di laga krusial babak 16 Besar.
Gonzalo Garcia tampil cukup menonjol. Dia cetak gol sama jadi pengganti kompetitif buat Kylian Mbappe yang absen. Performa individu itu gak cukup ubah nasib tim.
Sebagian gede pemain La Fabrica lain gagal kasih dampak signifikan. Kekalahan ini jadi pukulan buat proyek pengembangan pemain muda Madrid.

La Masia dan Dominasi Barcelona
Barcelona di jalur sebaliknya. Pemain jebolan La Masia jadi pusat permainan tim utama. Mereka tampil matang di level tertinggi.
Final Supercopa de Espana jadi panggung utama. Barcelona menang 3-2 atas Real Madrid. Sejumlah pemain La Masia tampil sejak menit awal.
Alex Balde, Eric Garcia, Pau Cubarsi, Fermin Lopez, sama Lamine Yamal masuk starting XI. Dani Olmo plus Gerard Martin kasih kontribusi dari bangku cadangan.
ESPN catat momen spesial. Ada 13 pemain jebolan La Masia dalam skuad juara Supercopa. Gak semuanya main, tapi perannya tetep vital.
Dua Akademi, Dua Arah yang Berbeda
La Masia dikenal konsisten lahirin pemain inti buat Barcelona. Dari Lionel Messi sampe Lamine Yamal, jalurnya jelas. Akademi sama tim utama berjalan selaras.
La Fabrica hadapi fenomena beda. Banyak lulusannya justru bersinar setelah tinggal Santiago Bernabeu. Kesempatan di tim utama sangat terbatas jadi alasannya.
Nico Paz berkembang pesat di Como 1907. Alvaro Carreras temu performa terbaik di Benfica. Achraf Hakimi bersinar setelah hijrah ke Dortmund.
Baca Juga : Bek Tengah Menipis, Liverpool Justu Pilih Jalan Panjang untuk Datangkan Marc Guehi, Bro!
Kasus serupa terjadi di Marcos Llorente di Atletico Madrid. La Fabrica tetep produktif, tapi manfaat terbesarnya justru dirasa klub lain. Paradoks itu sekarang makin nyata.
Semoga akademi makin kuat, bro! Sepak bola Spanyol makin menarik nih! ⚽🔥
